| Catatan Nonton Bareng IAE-ITB : "Bahwa Cinta Itu Ada" |
|
|
|
| Ditulis oleh Yohan Suryanto | |||
| Kamis, 18 Maret 2010 00:21 | |||
|
Sebuah konsep film nonkonvensional, Sejak jam 6.30 peserta nobar IAE-ITB "Bahwa Cinta itu Ada" mulai berdatangan di platinum XXI, Gedung fX lt. 7. Banyak dari mereka yang rela menembus kemacetan jakarta untuk mengapresiasi film karya ganesha creative industri ini. Bahkan penanggung jawab Acara (Yusron Hariyadi El 86) dan koordinator acara (Golden El 97) sudah datang sejam sebelumnya. Mereka berdua menyiapkan juga voucher dan reservasi penonton. Sujiwo Tedjo sebagai sutradara juga hadir dengan pakain khasnya. Eksekutif producer Suhono hadir ditemani oleh ketua IAE-ITB Arief Yahya. Sebagian foto-foto menjelang nobar IAE bisa dilihat di www.iaeitb.org bagian galeri. Peserta yang baru hadir melakukan registrasi, diberikan kupon untuk kemudian ditukarkan dengan tiket dari XXI. Alumni dan beberapa pasangannya menyempatkan mengobrol dan berdiskusi sebelum dimulai. Tempat yang nyaman dengan camilan dan minuman ringan membuat peserta tidak merasa lama menunggu. Pada jam 19.15 peserta nobar dipersilahkan masuk ruangan studio 4. Studio ini merupakan sebuah ruangan studio yang besar dengan kapasitas penuh 130 orang. 60-an peserta dari 110 orang yang mendaftar bisa hadir, sementara 50-an orang lainnya yang sudah terdaftar mendadak ada tugas kantor atau terjebak kemacetan dijalanan ibukota. Meskipun peserta yang datang juga cukup banyak, ruangan terasa lega dan peserta bisa memilih tempat yang paling favorit untuk menonton film dari sudut yang tepat. Di dalam ruangan studio, persis sebelum film diputar, Sujiwo Tedjo memperkenalkan 5 orang pemeran utama (Slamet, Fuad, Gungun, Poltak, Benny). Pemeran Ria, yang merupakan sosok gadis yang sempurna, tidak bisa hadir karena masih di Surabaya. Secara cepat, Sujiwo Tedjo memperkenalkan karakter yang mereka wakili. Tatap muka dengan tokoh utama seperti ini, membuat kita merasa dekat dengan film yang akan ditonton. Di dalam gedung kita diingatkan saat nonton bareng di LFM dulu saat mahasiswa. Suasana khas mahasiswa sesekali muncul, ada celetukan disana-sini terutama saat ada kejadian yang mirip dengan yang dialami oleh alumni dulu. Film ini mengambil latar mahasiswa angkatan 1981, tak mengherankan jika alumni 1981 menguasai keadaan ruangan. Mereka hadir paling banyak. Sujiwo Tedjo menyuguhkan sebuah film yang unik, tidak seperti film romantis pada umumnya. Merupakan perpaduan antara film konvensional dengan teknik dalang dengan pemahaman adat jawa yang mendalam. Saat transisi penjelasan yang rumit, dalang hadir mengantarkan cerita, sebuah cara khas yang tidak bisa kita temukan dalam film hollywood misalnya. Cara yang tidak biasa ini, mungkin masih belum banyak diterima dikalangan umum. Mengapa mengambil cara ini, bisa kita mengerti dari pengantar dalang diawal film, bahwa cerita ini adalah cerita yang biasa tetapi cinta memang akan ditemukan dimana saja dan sulit untuk dijelaskan, tidak seperti penjelasan mengenai sebuah pohon misalnya. Maka yang muncul adalah potret-potret kejadian yang tidak biasa dalam alur sebuah film konvensional. Potret-potret ini bagi alumni yang pernah menimba ilmu di kampus ganesha akan memiliki makna yang sangat khusus. Tetapi bagi masyarakat umumnya, sebagian potret-potret ini bisa kurang memiliki arti. Bagi saya film ini mengingatkan kembali pada masa-masa kuliah, saat berangkat pertama ke Bandung untuk menimba Ilmu di Ganesha, sebuah film yang layak ditonton.
|